IKADI

Menebar Islam Rahmatan Lil 'Alamin

Home

Malu Bagian dari Iman


Khutbah Pertama

Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Pada kesempatan mulia ini khatib berwasiat pada diri khatib sendiri dan Jamaah Jum’at sekalian, untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan sebagai bekal kehidupan kita, baik kehidupan dunia dan Akhirat. Siapa yang ingin bahagia di Dunia dan Akhirat, bekal utamanya adalah takwa kepada Allah SWT.

 

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ

Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (Al-Baqarah: 197).

 

 

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Mari kita merenungi satu pelajaran yang disampaikan Rasul Saw. Pelajaran yang sejak lama sebelum Nabi Muhammad Saw. diutus, sudah diajarkan oleh para Nabi kepada kaum-kaum mereka. Pelajaran berharga yang merupakan cabang dari iman. Pelajaran itu adalah pelajaran sikap malu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Rasulullah Saw. bersabda:

 

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Bahwa diantara wasiat yang disampaikan kepada Umat para Nabi terdahulu adalah “Jika Anda tidak malu, maka lakukan apa yang Anda sukai”. (HR. Bukhari).

 

Wasiat tersebut menggambarkan pentingnya rasa malu. Bahwa rasa malu bisa menjadi tameng bagi manusia. Bisa mencegah seseorang melakukan hal-hal yang tidak pantas apalagi maksiat dan dosa. Dan bila tidak ada rasa malu, maka seseorang bisa melakukan apa saja sesukanya.

 

 

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah

Tentunya rasa malu yang dianjurkan Allah dan rasulNya adalah malu untuk melakukan kesia-siaan. Malu dalam melakukan maksiat dan dosa. Karena malu yang seperti ini adalah malu yang terpuji (al-hayaa’ almahmuud).

 

Malu melakukan hal yang sia-sia apalagi dosa merupakan indikasi baiknya seseorang. Karena malu yang seperti ini adalah bagian dari iman. Rasulullah Saw. menyebutnya secara khusus sebagai bagian dari iman dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.:

 

الإيمان بضع وسبعون شعبة والحياء شعبة من الإيمان

Iman memiliki lebih dari tujuh puluh (antara tujuh puluh tiga sampai delapan puluh) cabang, dan malu merupakan salah satu cabangnya.

 

Bukan malu untuk melakukan kebaikan. Karena malu untuk melakukan kebaikan adalah pertanda kelemahan, sebagaimana disampaikan Syekh Bugha dalam kitab Al-Wafii ketika menerangkan hadits tersebut. Malu dalam hal ini adalah malu yang tercela (al-hayaa’ almadzmuum).

 

 

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari kita, tentunya tidak luput dari perasaan malu. Rasa malu itu timbul lantaran banyak hal. Apakah malu lantaran status sosial yang rendah, malu lantaran kondisi ekonomi yang lemah, malu lantaran wajah dan fisik yang buruk, dan seterusnya.

 

Apa yang harus kita sadari adalah, kita harus lebih merasakan malu lantaran kealfaan kita dalam menjalankan perintah Allah dan meninggalkan laranganNya. Kita harus lebih merasakan malu lantaran melakukan hal yang sia-sia. Malu lantaran melakukan maksiat dan dosa. Malu lantaran menelantarkan kewajiban-kewajiban kita.

 

Jangan sampai kita malu lantaran kondisi lemah ekonomi kita, tetapi kita tidak malu dengan kondisi lemah keberagamaan kita. Jangan sampai kita malu lantaran rendahnya posisi sosial kita, namun kita tidak malu lantaran rendahnya akhlak kita. Jangan sampai kita malu lantaran buruknya wajah dan tubuh kita, namun kita tidak malu lantaran buruknya ketakwaan kita. Padahal standar hakiki kemulian seorang hamba adalah takwa. Allah SWT. berfirman:

 

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujuraat: 13).

 

Begitu pula siapa yang memiliki kekayaan dan kedudukan yang tinggi, jangan sampai kondisi tersebut melupakannya untuk merasa rendah dan malu di sisi Allah SWT. Apa yang menjadi kebanggaan kita adalah ketakwaan kepada Allah SWT.

 

Seorang yang kaya tetap tidak dipandang Allah SWT. ketika ia jauh dari akhlak dan ibadah kepadaNya. Seorang yang tinggi pangkat tetap tidak mendapat kemuliaan dari Allah ketika ia tidak menghiasi dirinya dengan ketakwaan. Seorang yang fisiknya bagus seharusnya malu ketika akhlaknya tidak bagus. Karena fisik, wajah dan standar duniawi tidak berlaku dihadapan Allah SWT. Rasul Saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra.:

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh dan wajah kalian, tetapi Allah memandang kepada hati kalian. (HR. Muslim).

 

Khutbah Kedua

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah.

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah bagaimana menumbuhkan rasa malu yang terpuji (al-hayaa’ almahmuud)?

 

Pada prinsipnya sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Wafi syarah Arba’in nawawi, rasa malu dalam diri manusia bisa dibagi dari sisi pertumbuhannya kepada dua: pertama, rasa malu yang ada secara fitrah (Alhayaa’ alfithriy). Rasa ini timbul secara otomatis dalam diri manusia. Malu untuk melakukan keburukan sebenarnya adalah fitrah manusia. Karena memang setiap anak manusia itu lahir dalam keadaan fitrah. Namun rasa malu ini akan dipengaruhi dengan proses selanjutnya.

 

Kedua, rasa malu yang ditumbuhkan (Alhayaa’ almuktasab). Rasa malu bisa ditumbuhkembangkan dalam jiwa seseorang. Karena rasa malu merupakan bagian dari akhlak, dan akhlak adalah sesuatu yang bisa diupayakantumbuh dalam diri manusia.

 

Ada satu langkah yang utama dan pertama untuk menumbuhkan rasa malu yang terpuji, yaitu mengenal Allah SWT. (ma’rifatullah), untuk selanjutnya akan menumbuhkan rasa pengawasanNya (muraqabatullah).

 

Mengenal Allah SWT. (ma’rifatullah). Kita bisa membaca da\n merenungi Al-Qur’an untuk mengenal Allah SWT. Allah SWT. adalah zat yang maha mengetahui, zat yang maha melihat, zat yang maha mendengar, zat yang maha mengawasi, dan seterusnya. Misalnya Allah SWT. menerangkan sifatNya dan mengenalkan diriNya dalam ayat:

 

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

 

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Al-An’am: 59).

 

Dalam yata lain Allah SWT. juga berfirman:

 

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ . هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ . هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Hasyr: 22-24).

 

 Ahmad Yani



 

Artikel Terbaru

Pemimpin yang Menipu Diri Sendiri

Manusia terbaik adalah orang yang paling banyak manfaat bagi sesamanya. Manusia terbaik adalah orang yang ketika mendapat ta... Readmore

More in: Mauizhoh, Moderasi Islam, Tips, Khutbah, Fiqh Dakwah, Kemukjizatan Ilmiah, Tafakkur, Kajian, Opini

REKENING DONASI


BSM Cabang Warung Buncit
No.Rek : 7000347447   
a/n Ikatan Da'i Indonesia


BRI Cabang Pasar Minggu
No.Rek: 0339.01.000930.30.7  
a/n Ikatan Da'i Indonesia

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday2023
mod_vvisit_counterYesterday1740
mod_vvisit_counterThis week2023
mod_vvisit_counterLast week11953
mod_vvisit_counterThis month41130
mod_vvisit_counterLast month53425
mod_vvisit_counterAll days1732533